Tuhan Keliling Kampung Berburu Ayam, ada 11 orang dengan nama Tuhan



Jpnn. com - "Tuhan, Kita Begitu Dekat". Kalau ada yang membacakan puisi karya Abdul Hadi W.M. itu di Jember, Jawa Timur sekarang, barangkali dia akan ditanya, "Tuhan yang mana ya, Mas Abdul?" karena nama Tuhan sekarang begitu banyak.

Itu barangkali lho ya. Sebab, ternyata ada begitu banyak "Tuhan" di sana. Komisi Pemilihan Umum Jember yang melakukan verifikasi data untuk keperluan pemilihan kepala daerah (pilkada) menemukan bahwa ada sebelas nama Tuhan yang memiliki hak pilih. Bayangkan dengan Tuhan sebanyak itu, bayangkan, siapa yang bakal berani main politik uang di sana? Heheh

Tentu saja yang dimaksud di sini semua adalah orang-orang bernama Tuhan. Temuan di Jember tersebut berlipat-lipat banyaknya dari Tuhan di kabupaten tetangganya, Banyuwangi, yang belum lama berselang memicu kehebohan itu.

Tuhan sehari-hari bisa ditemui dengan mudah di pasar dekat tempat bermukimnya di Desa Tutul, Kecamatan Balung. Di KTP-nya memang tertulis dia petani. Tapi, belakangan dia lebih aktif sebagai pedagang ayam dari pada sebagai petani.

Setiap hari laki-laki yang meiliki dua anak itu rajin pergi ke pasar untuk menawarkan barang dagangannya. Sepulang dari pasar, Tuhan yang satu ini juga masih harus keliling kampung untuk berburu ayam.

"Semua orang tahu kalau nama saya itu adalah Tuhan. Kadang saya sering juga dijadikan bahan guyonan orang yang saya temui," tuturnya.

Dia tak secara spesifik menyebutkan guyonannya seperti apa. Tapi, mungkin saja, setiap kali dia lewat, ada tetangga atau kenalan yang nyeletuk, "Katanya Tuhan, kok masih nyari ayam?"

Meski sering diledek tetangga dan orang lain, seperti juga nama Tuhan di Banyuwangi, pria kelahiran 1 Juli 1951 tersebut tak mau namanya diganti dengan nama yang lain (bukan Tuhan). "Karena saya yakin nama itu doa sekaligus harapan orang tua," jelasnya.

Latar belakang pekerjaan para Tuhan tersebut beragam. Mereka rata-rata tak tahu persis alasan orang tua masing-masing memberi nama yang membelalakkan mata itu. Yaa memang orang tua memberi nama bayi kami seperti itu. Mau bagaimana lagi. Mungkin maksudnya nama TUAN bukan nama Tuhan, mungkin salah cetak di akta. Yang pasti, mereka yakin nama bayi tersebut mengandung doa.

Yang pasti pula, mereka sudah tuwuk (kenyang) nama mereka dijadikan bahan guyonan. Tentu saja "penderitaan" tersebut juga dialami orang-orang dan keluarga terdekat. Karena benar-benar Tuhan  tinggal di Dusun Karanganyar, Desa Balung Lor, Kecamatan Balung, contohnya.

NAh, sekarang ada Tuhan yang lain lagi. Tuhan yang ini merupakan pensiunan PT Kereta Api.Dia  menceritakan bagaimana Nurul, seorang anak perempuannya, pernah mengaku teman-temannya takut mengganggunya. "Jangan macam-macam sama Nurul, nanti dikutuk Tuhan," ujarnya menirukan ledekan teman-teman si anak ketika di sekolah.

Meskipun tak pernah tahu alasan orang tuanya memberinya nama tersebut, pria kelahiran 4 Juli 1945 tersebut sebenarnya tidak pernah merasa aneh dengan nama tersebut. Dia rasa biasa saja. Apalagi, dulu, semasa kecil, orang-orang di sekitarnya biasa menyebut Sang Maha Esa sebagai Pengeran.  Bukan dengan sebutan Tuhan seperti saat ini. Ada pergeseran budaya dalam masyarakat kita. Dari pangeran menjadi Tuhan.

Karena itu pula, pensiunan PT KAI Daop IX Jember tersebut tak pernah merasa terganggu setiap kali diledek. Apalagi, anak pertama di antara lima bersaudara pasangan (almarhum) Sidam dan (almarhumah) Tukirah itu punya dua adik laki-laki dengan nama mirip.

"Nama saya Tuhan, adik saya Tuhar dan Tohari," jelasnya saat ditemui di kediamannya. Ketigannya memang nama yang hampir mirip. Nama Tuhan juga nama pemersatu keluarga.

Nah, Tuhan yang satunya lagi ini agak sulit dicari. Bukan karena dia tengah sibuk mengurusi umat, eh maaf, maksudnya pekerjaan. Tapi, karena sehari-hari dia tidak dipanggil dengan nama lahirnya itu.

Warga sekitar tempat tinggalnya di Dusun Krajan, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang, biasa memanggilnya dengan sebutan Pak Farida. Farida adalah nama anak pertamanya yang dia miliki. Memanggil seseorang dengan nama anak pertama adalah tradisi yang juga bisa dijumpai di sejumlah tempat di Jawa. Termasuk di jawa bagian selatan.

Tuhan di Kelurahan Slawu itu, bicaranya, agak keras. Sebab, kemampuan pendengarannya sudah agak berkurang. "Tuhan ya Allah. Jadi, ya (justru) baik namanya," ujar Tuhan sembari menunjuk ke atas.


Karena itu, buruh tani dari Krajan tersebut juga menolak rekomendasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengganti dan menambah namanya agar tidak menggunakan TUhan. Wong selama 65 tahun hidupnya memakai nama Tuhan, dia merasa tidak pernah punya masalah. Dirinya tidak merasa jadi Tuhan. Juga, lantas dikutuk jadi jambu monyet, misalnya. 

Sang anak, yang bernama Anik, pun mengaku tak terbebani dengan nama sang bapak. Semua biasa saja. Orang tua memberi nama bayi dengan nama Tuhan biasa saja. Nama Tuhan itu kan bisa berarti bermacam-macam. Meski, sejak kecil dia tahu bahwa Tuhan itu berarti Sang Maha Pencipta. "Ya biasa saja, seperti nama orang lainnya," jelasnya.

Masih ada delapan Tuhan lainnya di Jember yang sepertinya juga merasa baik-baik saja dengan nama mereka. Setidaknya sampai verifikasi KPU Jember selesai, mereka tak berniat ganti nama. 

Bisa jadi argumen mereka serupa: Yang di Atas saja tak murka, kok yang di bawah pada repot. 

11 Tuhan tersebut Bakal Memilih Bupati dan Wakil Bupati Jember

Tuhan-Tuhan tersebut akan mencoblos dalam Pilbup Jember, Desember 2015. Hal ini dikarenakan nama Tuhan itu termasuk dalam daftar pemilih sementara (DPS) Pilkada Jember.

Ia tak mengetahui secara pasti berapa nama Tuhan dalam DPS itu. Sementara dari informasi yang dihimpun Surya, ada 11 orang bernama Tuhan yang tersebar di sejumlah kecamatan di Jember.

Mereka memiliki nomor induk kependudukan (NIK) yang berbeda, dengan alamat berbeda pula.
Siapapun nama yang disandang, Hanafi berharap, warga yang memiliki hak pilih berbondong-bondong ke TPS 9 Desember mendatang.

"Memang ada nama itu, tetapi jumlahnya kami tidak mengecek sampai ke sana. Kalau tidak salah, ada yang namanya Tuhan, ada yang pakai awalan seperti Tuhani, Satuhan," ujar Ahmad Hanafi, Komisioner KPU Jember, Kamis (3/9/2015).

Bagi warga yang belum tertera di DPS namun memiliki hak suara, agar menghubungi panitia pemungutan suara (PPS) desa/kelurahan setempat untuk didata dan dimasukkan ke DPT. Karena memberi tahukan nama tersebut itu penting.

'DPS kami pasang di tempat umum seperti kantor kelurahan dan desa, silahkan cek apakah namanya sudah masuk atau belum. Kalau belum namun memiliki hak pilih, sebaiknya menghubungi PPS setempat," ujar Hanafi. Dan cari juga orang tua yang memberi nama bayi mereka dengan sebutan Tuhan.

Dalam rapat pleno KPU, ditetapkan jumlah DPS untuk Pilkada Jember mencapai 1.930.863 orang, dengan jumlah pemilih perempuan mencapai 955.346 dan pemilih laki-laki sebanyak 975.517 orang. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tuhan Keliling Kampung Berburu Ayam, ada 11 orang dengan nama Tuhan"

Posting Komentar