Konsultasi Nama Bayi Sebagai industri kreatif

Konsultasi Nama Bayi, Jasa Pembuat Nama bayi, pakar nama, dan sebagainya Sebagai industri kreatif. Beberapa orang melakukan pencarian di mesin pencari dengan kata kunci Nama bayi laki-laki, sebagian lagi mencari nama bayi perempuan. Hal tersebut dikarenakan sebagian orang tua sedang mencari ide untuk memberikan nama kepada anaknya.

Apakah ada kata kunci yang menunjukan bahwa Konsultasi Nama Bayi, Jasa Pembuat Nama bayi, pakar nama, dan sebagainya merupakan sebuah industri kreatif. Apakah itu? yaitu kata "IDE". Ide mencari sebuah nama. Itulah kata pokok yang menyebabkan Konsultasi Nama Bayi, Jasa Pembuat Nama bayi, pakar nama, dan sebagainya sebagai industri kreatif sama seperti industri desain grafis dan lain sebagainya.

Sebagai sebuah industri kreatif maka sesungguhnya ini merupakan produk manusia. Ini merupakan budaya yang bersumber dari manusia. Segala sesuatu yang bersumber pada cipta rasa dan karsa manusia maka di sebut sebagai budaya. Termasuk cara pemberian nama juga merupakan hasil budaya. Dalam bahasa singkat produk manusia merupakan produk hasil dari cipta (logika), rasa (hati) , dan karsa (Kemauan/nafsu/hasrat).

Sama seperti seorang yang sedang mendesain sebuah karya grafis maka sesunggunya yang dinilai dari jasa pembuatan nama adalah dari ketiga hal diatas.

Kita bahas satu persatu. Pertama dari aspek keindahannya. Membuat sebuah nama orang mebutuhkan ilmu Keindahan. Tentu saja keindahan dari sudut pandang hati dan pikiran orang yang yang melihatnnya. Persepsi seseorang tidak bisa di benarkan dan tidak bisa disalahkan. Apa yang disebut sebagai keindahan adalah rasa yang bersumber dari dalam diri orang tersebut. Mirip seperti keyaninan yang tidak bisa dipaksakan ketika seseorang mengatakan bahwa "itu" adalah indah. Selama keindahan tersebut masih berada dalam koridor hukum maka sesungguhnya sah-sah saja untuk bekerja dan bergerak di dalamnya. Dalam membuat nama pun demikian adanya. Seorang konsultan nama akan memberikan nama yang sekiranya bagus untuk di pakai oleh customernya. Jika nama tersebut bagus maka dipakailah nama tersebut. Nama tersebut adalah nama yang indah.

Kemudian dari aspek karsanya bagaimana? Aspek yang kedua merupakann aspek yang paling bisa membenarkan bahwa konsultasi memberikan nama anak merupakan boleh-boleh saja sebagai bagian dari rasa -rasa harapan keinginan seseorang yang ingin memiliki nama yang baik. Harapan-harapan seseorang, (atau mungkin lebih tepat disebut keinginan-keingan seseorang atau nafsu nafsu seseorang) tertuang dalam sebuah simbol-simbol yang ada pada nama. Harapan dimasukan ke dalam nama. Ini merupakan landasan filosofi yang paling membenarkan bahwa jasa membuat nama bayi atau anak adalah bisa eksis.

Kemudian sisi yang ke tiga, dari sudut pandang logika akal manusia bagaimana?. Sesungguhnya sistem kebenaran itu ada 2 buah. Yang satu disebut sistem kebenaran wahyu dan yang satu lagi disebut sistem kebenran budaya. Sistem budaya berbeda dengan sistem pewahyuan. Sistem budaya merupakan sesuatu yang open source. boleh ditambahi dan boleh di kurangi. Pada sisi inilah kami berada. Pada sisi semi find the truth inilah posisi kami. Berusaha membuatkan nama bayi yang selaran dengan namanya sesuai dengan pemahaman manusia. usaha unik jasa konsultasi dan pakar nama bayi merupakan dan adalah total industri  industri kreatif. Setiap orang bebas meyakini mana yang baik dan mana yang tidak baik dalam industri kreatif seni.

Kami tidak hendak membahas apa perbedaan antara sistem wahyu dan sistem budaya. Kami tidak membahas mana yang benar? apakah keduannya benar-benar eksis. Kami meyakini bahwa sebernannya baik sistem pewahyuan maupun sistem budaya sebernanya adalah satu kesatuan. Hanya sudut pandangnnya saja yang berbeda.

Selamat datang masuk kedunia kami. Dunia dengan "culture" baru. Kultre yang kami buat. Menyatu dengan alam, terus belajar menyatu harmonis dengan kehidupan dan alam sesuai pemahanan yang terus bertumbuh.

Indonesia Butuh Banyak Industri Kreatif

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia, Triawan Munaf, menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan kompetisi inovasi "Black Innovation." Hal tersebut dianggap sebagai bagian dari pengembangan kreativitas inovasi anak muda Indonesia.

Triawan mengungkapkan, hal ini merupakan konsekuensi dari era digital yang saat ini semakin terbuka. Dulunya, kata dia, hal ini adalah market untuk industri kreatif yang terbatas dan bersifat birokratif sehingga sulit menembus market dalam dan luar negeri.

"Dibutuhkan konten-konten yang semakin banyak, kreasi, dan inovasi baru, serta materi-materi dari pelosok daerah yang tadinya tidak tereksplorasi jadi sangat dibutuhkan untuk mengisi ruang-ruang kosong tersebut," Triawan  menambahkan.

"Di era digital ini, market dunia ada di depan mata kita, ada di tangan kita. Ruang-ruang di internet itu tidak mengenal batas," ujar Triawan kepada VIVA , Jumat, 4 Maret 2016.


"Minimal kehadiran kami, endorsmen dan keterlibatan kami akan terus ada selama kegiatan tersebut berhubungan dengan bidang-bidang kreatif," kata Triawan.

Triawan mengemukakan, hal ini adalah tantangan di industri kreatif yang sangat menarik dan diperlukan inovasi yang terus menerus. "Saat ini kita hidup di era kompetisi. Sebab kompetisi ini membuat kita terasah hingga mampu bersaing dengan produk-produk luar negeri. Saya sangat mengapresiasi hal tersebut," ujarnya.

Namun, Triawan menegaskan, pemerintah tidak bisa sepenuhnya menangani iklim kompetisi di industri kreatif. Dibutuhkan peran swasta dan lembaga lain yang mau terlibat bahkan menjadi inisiator.

Sebelumnya, Black Innovation merupakan ruang berkreasi bagi para innovator agar bisa memunculkan berbagai idenya dalam sebuah wadah kompetisi. Dari inovasi tersebut akan menghasilkan barang modifikasi suatu produk atau barang sehingga lebih memiliki nilai bagi kehidupan.

Industri Kreatif Sumbang Rp 642 Triliun dari Total PDB RI

Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Abdur Rohim Boy Berawi mengungkapkan bahwa industri kreatif dalam setahun terakhir telah menyumbang Rp 642 triliun atau 7,05 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

"Kontribusi terbesar berasal dari usaha kuliner sebanyak 32,4 persen, mode 27,9 persen, dan kerajinan 14,88 persen," katanya dalam Rakor Rencana Program Pengembangan Ekonomi Kreatif yang digelar BEKRAF di Ambon, Maluku, Selasa (1 Maret 2016).

"Ekonomi kreatif semakin mendapat perhatian utama di banyak negara, karena dapat memberikan konstribusi nyata terhadap perekonomian," ucapnya.

Selain menyumbang PDB nasional, Abdur mengatakan, industri kreatif merupakan sektor keempat terbesar dalam penyerapan tenaga kerja, dengan konstribusi secara nasional sebesar 10,7 persen atau 11,8 juta orang.

Rata-rata konstribusi terbesar berasal dari bisnis mode sebanyak 32,3 persen, kuliner 31,5 persen, dan kerajinan 25,8 persen.


Saat ini, kata dia, ada 16 sub sektor yang akan terus berkembang selama 2015 - 2019, yakni seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio, aplikasi game, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, periklanan, musik, penerbitan, fotografi, desain produk, fashion, film animasi dan video, kriya, dan kuliner.

Dari sub sektor yang ada, sedikitnya ada tiga bidang yang mengalami pertumbuhan cukup signifikan, yakni teknologi informasi sebesar 8,81 persen, periklanan 8,05 persen, dan arsitektur 7,53 persen.
Karena itu, kata Abdur, BEKRAF menjalin kerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan enam perguruan tinggi, yakni Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Institut Kesenian Jakarta, Institut Seni Indonesia.

Kendati industri kreatif Indonesia diprediksikan akan semakin berkembang, masih ada hambatan yang perlu untuk diperhatikan, yakni minimnya sistem informasi dan database yang bisa membantu para pelaku ekonomi kreatif mengembangkan karyanya.

Kerja sama tersebut, dimaksudkan untuk membantu BEKRAF menjalankan berbagai riset terkait statistik ekonomi kreatif, perbaikan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), survei dan informasi sub sektor, riset pasar dan produk, ramalan tren yang berkembang, dan lainnya.

"Tonggak kegiatan dan implementasi kami pada 2016 - 2019 adalah perbaikan iklim ekonomi kreatif, peningkatan sumberdaya dan investasi, peningkatan bisnis kreatif dan lapangan kerja, serta pemantapan citra industri kreatif Indonesia," tandasnya.

Karina Nadila Merasa Pemerintah Kurang Dukung Industri Kreatif

Film besutan Billy Christian, TUYUL: PART 1 baru saja mendapatkan penghargaan dari luar negeri. Seperti yang dikabarkan sebelumnya, film yang dibintangi Karina Nadila itu mendapatkan Winter Film Festival Awards 2016.

Meski di Indonesia film tersebut tak mendapat apresiasi yang sebaik di luar negeri, Karina tak begitu merasa kecewa. Namun dirinya tetap menyayangkan kurangnya dukungan dari pemerintah.

"Untuk mendobrak persepsi masyarakat tentang film horor yang pernah rusak. Tapi ternyata waktu itu responnya lumayan ada sekitar 80.000 penonton," ujarnya saat ditemui saat jumpa pers di Veteran, Jakarta Pusat beberapa waktu yang lalu.

"Enggak segitu booming. Disayangin di Indonesia itu dukungan dari pemerintahnya agak kurang di industri kreatif," lanjutnya.

"Sama aja sih. Karena FFI termasuk apresiasi yang paling tinggi untuk industri film Indonesia. Senengnya kalau di luar negeri yang nonton itu dari belahan dunia. Jadi seneng aja muka saya ditonton di luar negeri," jelasnya.

Kondisi demikian ternyata tak membuat Nadila kapok untuk main film dalam negeri. Meski dirinya juga ingin mengembangkan karirnya dalam film-film internasional.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Konsultasi Nama Bayi Sebagai industri kreatif"

Posting Komentar