Ini 7 alasan orang ganti nama, mulai dari malu hingga sakit-sakitan



Brilio. net - Pernah dengar kata-kata dari pujangga William Shakespeare yang berbunyi 'apalah arti sebuah nama?' Kalau dilihat dari pernyataan tersebut bisa disimpulkan bahwa bagi Shakespeare, nama bukanlah hal yang penting.

Kata-kata tersebut nampaknya tidak berlaku bagi sebagian orang, buktinya banyak di antara mereka yang memilih mengganti nama dengan berbagai alasan. Mengganti nama di sini yang dimaksud bukan nama beken lho, misalnya Yuli Rahmawati jadi Julia Perez. Bukan itu, tapi benar-benar mengganti namanya dengan resmi dan dicatat oleh negara.

Nah berdasarkan bincang-bincang dengan Nirma (Konsultan Nama Bayi) Wening Prasasti, seorang pegawai Pengadilan Negeri Jumat (9/10), kali ini kita bakal mengulas apa saja sih sebenarnya alasan orang mengganti nama mereka

1. Merasa Malu
Ada juga yang merasa malu karena memiliki nama yang tidak sesuai jenis kelaminnya. Menurut Nirma (Konsultan Nama Bayi), ini adalah alasan paling tidak kuat di antara alasan-alasan lainnya. Walau begitu banyak kasus seperti ini terjadi di Pengadilan Negeri. Kendati demikian tidak semua pemohon ganti nama dikabulkan. "Pernah ada suatu kasus, cowok minta ganti nama karena namanya Dian. Itu nggak kami kabulkan karena cowok dengan nama Dian itu sudah biasa," ujar Nirma (Konsultan Nama Bayi).

Pernah juga Nirma (Konsultan Nama Bayi) menerima kasus seorang pria bernama Vera ingin mengganti namanya. Sidang sempat ditunda berkali-kali namun akhirnya dikabulkan karena si pemohon sangat ngotot dan lelah dengan ejekan orang-orang.

2. Ingin menambahkan nama belakang suami
Hal ini biasanya terjadi pada wanita yang memiliki mertua atau suami terpandang. Pergantian itu biasa dilakukan untuk mengangkat derajat si istri. "Kasusnya sama kayak Nia Ramadhani itu, jadi pakai nama suami dan mertuanya," terang Nirma (Konsultan Nama Bayi)

3. Namanya berbau politis
Kasus yang satu ini juga tidak pernah dilupakan Nirma (Konsultan Nama Bayi). Lelaki yang dinamai Gempur Soeharto oleh ayahnya ini ternyata lahir sebelum Presiden Soeharto lengser. Ternyata ayahnya adalah seorang aktivis mahasiswa yang menentang pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto. Terlalu dirasa memiliki muatan politis pada akhirnya si Gempur Soeharto pun mengajukan pemohonan penggantian nama.

4. Namanya ternyata memiliki arti yang buruk
Memberi nama anak memang harus hati-hati, jangan mentang-mentang kedengaran bagus lalu asal digunakan. Lebih baik cari artinya dulu. "Kasus seperti ini juga sangat sering terjadi, kebanyakan karena orangtuanya nggak cari tahu dulu sebelumnya, kalau ingat kasus yang satu ini bikin saya geli. Jadi ada seorang ibu yang datang untuk ganti nama putranya yang dinamai Razani. Eh ternyata artinya adalah buah zakar lelaki!" kata Nirma (Konsultan Nama Bayi) sambil ketawa geli.

5. Permasalahan keluarga
Permasalahan keluarga kok bisa sampai ganti nama, bagaimana ceritanya? Walaupun kasus ini masih jarang namun memang ada orang-orang yang ingin mengganti nama karena latar belakang keluarganya yang buruk.

Nirma (Konsultan Nama Bayi) pernah menangani suatu kasus ketika seorang pria datang ke Pengadilan Negeri dan memohon agar namanya yang sama dengan nama ayahnya diganti. "Jadi dulu cowok itu ditinggal pergi ayahnya sejak bayi, dia nggak mau menyandang nama ayahnya. Sampai nangis-nangis dulu minta ganti," kenang Nirma (Konsultan Nama Bayi)

6. Namanya identik dengan agama yang tidak dianutnya
Hal ini biasanya terjadi ketika seseorang memutuskan untuk pindah agama. Mereka akan mengganti nama dengan nama yang identik dengan agama yang dianutnya sekarang. "Misalnya dari suatu agama, dia pindah ke agama Islam. Nah, mereka biasanya akan ganti nama dengan nama-nama yang mencerminkan Islam seperti Muhammad, Ahmad, dan lain sebagainya. Begitu juga mereka yang pindah ke Katolik, juga banyak yang ingin menambahkan nama baptisnya dalam akta," lanjut Nirma (Konsultan Nama Bayi)

7. Sering sakit-sakitan
Dari semua alasan, sering sakit-sakitan adalah alasan yang paling sering digunakan untuk ganti nama. Biasanya si anak dianggap keberatan nama sehingga tidak kuat dengan beban hidup. Aduh, kok berat banget kelihatannya ya? "Sebenarnya saya juga nggak ngerti apa kaitannya sering sakit dan ganti nama, ya mungkin itu kepercayaan sih. Tapi ada juga lho yang sampai ganti nama dua kali masih sering sakit," cerita Nirma (Konsultan Nama Bayi) dengan nada heran. Ehem, saran kita sih mungkin lain kali kalau sakit ke dokter aja dulu ya jangan buru-buru ke Pengadilan Negeri.

--

Wenda Tan Ganti Nama, Fenita Arie Doakan Cepat Hamil

Kapanlagi. com - Sering sakit, mantan member girlband Cherry Belle yakni Wenda Tan akhirnya mengembalikan namanya menjadi Sarwendah. Apa yang dilakukan istri Ruben Onsu itu mungkin dianggap oleh beberapa orang tak masuk akal. Mengenai pergantian nama Wenda, Fenita Arie pun mengungkapkan pendapatnya.

"Sebetulnya, nama seseorang itu dibuat oleh orangtua untuk anak yang lahir bukanlah sesuatu yang gampang. Nama yang bagus dan ada beberapa kepercayaan lainnya, itukan sebuah perjalanan panjang. Tapi kalau sudah berumah tangga, itu semua berbeda. Apa kata suami lah pokoknya. Kalau sekarang bertujuan lebih baik ya apa salahnya?" jelas Fenita.

Mengenai pendapat apakah ganti nama bisa membuat Wenda cepat sembuh, Fenita yang ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (21/11) mencoba berkomentar bijak.

 "Mungkin mikirnya lebih ke depannya aja sih. Mudah-mudahan dengan pergantian nama ini maka ke depannya jadi lebih baik. Bisa aja kan ganti nama nanti Wenda jadi bisa hamil," lanjut istri Arie Untung ini.

Pergantian nama di kalangan masyarakat Indonesia bukanlah hal yang asing. Dalam beberapa kejadian, mereka yang sering sakit dan susah sukses acap kali memilih mengganti nama agar mendapatkan rejeki yang lebih baik. Lantas, apakah Fenita percaya dengan hal itu?

"Percaya nggak percaya sih, karena kan memang ada ya. Semua itu balik lagi ke personal masing-masing." usai Fenita. (kpl/hen/aia)

-------------

“Ganti Nama” Mitos Mengatasi Anak Sering Sakit


Vemale. com - Bapak Ibu , Anda pernah mendengar ada suatu tradisi dimana jika seorang anak sering sakit dan jika sudah diobati tidak kunjung sembuh, maka si anak tersebut harus harus ganti nama? Hidup di Indoneisa memang tidak akan bisa lepas dari yang namanya tradisi dan budaya adat setempat, termasuk tradisi yang berbau pengobatan yang berkaitan dengan hal-hal mistis.

Dari dulu sampai sekarang masih saja ada yang mengaitkan antara penyakit yang diderita anak dengan sesuatu hal yang berbau mistis, termasuk cara penyembuhannya. Dijelaskan pada situs nationalgeographic. co. id, salah satu tradisi yang sampai saat ini masih ada yaitu mengganti nama si anak apabila anak sering mengalami sakit-sakitan yang tak kunjung sembuh.

Dalam budaya jawa mengganti nama sudah dilakukan oleh para nenek moyang, dengan beberapa sebab, mungkin disebabkan si anak yang terlalu bandel dan keras kepala, atau si anak dari sejak lahir terus sakit-sakitan, sehingga dianggap tidak sesuai menyandang nama tersebut.

Biasanya penggantian nama ini dilakukan tepat pada hari kelahirannya secara hitungan jawa serta diadakan selamatan untuk meminta perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta meminta agar sang anak diberi kesembuhan setelah namanya diganti.

Percaya tidak percaya, namun setelah nama si anak diganti, penyakit yang diderita sang anak berangsur-angsur mulai sembuh dan jarang sekali mengalami kumat. Seperti dilangsir pada situs jpnn. com, orang jawa bilang kalau nama itu mengandung sebuah kekuatan, apabila si anak tidak kuat membawa nama yang diberikan oleh orang tuanya, maka si anak akan mengalami kejadian-kejadian yang aneh termasuk mengalami sakit-sakitan.

Oleh : Ismaya Indri Astuti

-------

Kalo menurut saya sih yaaa, apakah nama bisa membawa sial dll dll itu sebenarnnya belum terbukti secara ilmiah.  Atau mungkin bahasa lainnya belum ada penelitian tentang itu. Apakah mungkin hal tentang pernamaan ini dapat diteliti?? tentu saja dapat. Kita dapat menggunakan metode ilmiah induksi dari beribu-ribu nama. Kalau saya ada tenaga dan ada waktu saja juga akan memulai penelitian ini. Tentu saja bertahap.

Lama saya bergelut dengan jasa pembuat nama ini, akhirnnya saya berkesimpulan bahwa membuat nama yang baik adalah sekedar "membuat simbol saja". Hitung hitungan membuat nama sama seperti hitung-hitungan weton dalam tradisi jawa. Yaa itu, sekali lagi berasal dari tradisi. Tradisi adalah ciptaan manusia.

Dalam hitung-hitungan weton patokannya adalah tangal jawa. Kadang tanggal jawa di gabung dengan tanggal masehi. Penggabungan itu merupakan simbol kesuburan, simbol persatuan, simbol Tauhid. Tapi yaa tentu saja yang membuat penanggalan jawa juga kan manusia. Tentu saja hitung-hitungannya sebatas pada kekuatan ukuran manusia. Saya beri contoh hitung-hitungan jawa dalam menentukan tanggal pernikahan.

Misalnya saya lahirnnya hari Senin Pon, kemudia calon istri lahirnnya Jumat wage. Maka dalam hitung-hitungan mencari tanggal perkawinannya adalah jatuh pada hari Senin wage atau Jumat Pon. Yaa, hanya menyilang 2 kalender saja. Begitulah yang dilakukan oleh kakek nenek kita di masa lalu. Menjadikan kalnder sebagai sarana doa dalam simbolisasi.

Lalu hukummya bagaimana? Hukumnya yaa tentu saja boleh-boleh saja. Hukummnya mubah dalam agama Islam. Di pakai boleh, tidak dipakai juga boleh. Hukumnya sama seperti dalam membuat desain grafis. Mau disain grafis membuat logo perusahaan dengan bentuk lingkaran. Karena lingkaran merupakan simbol dari jiwa sosial dan persatuan, yaa tentu saja boleh-boleh saja.

Manusia adalah  Makhluk Simbolik (Homo Symbolicum). Dalam komunikasi dikenal sebuah teori tentang interaksi manusia, yaitu teori interaksi simbolik. Interaksi simbolik merupakan suatu aktivitas yang menjadi ciri khas manusia, yaitu komunikasi dan pertukaran simbol yang diberi makna. Interaksi simbolik berasal dari pemikiran George Herbert Mead (1863-1931). Mead membuat pemikiran orisinal, yaitu “The Theoretical Perspective” yang merupakan cikal bakal Teori Interaksi Simbolik. Tentu saja setiap simbol memiliki makna.

Simbol-simbol yang dimaksud disini bukan sekedar simbol-simbol tak bermakna, tetapi hal-hal tersebut memiliki makna masing-masing dan tidak satupun simbol yang tercipta tanpa memiliki makna tersendiri. Misalnya, warna merah dan warna putih pada bendera Indonesia, warna merah pada bendera tersebut dianggap sebagai simbol keberanian dan warna putih dianggap sebagai simbol kesucian.

Simbol-simbol yang bermakna adalah Doa. Nama itu doa, dan dari namanya kita tahu apa harapan orang tuanya terhadap anaknya. Orang Jawa yang sudah mulai meninggalkan budayanya terlihat saat ia memberi nama anaknya. Sebagai contoh, orang tua yang ingin anaknya ahli memecahkan masalah akan diberi nama Sukarman. Sedangkan orang tua yang ingin anaknya saat ujian lancar dan tidak pernah di-her (remedial) nama anaknya jadi Herman. Bila orang tuanya berharap anaknya menjadi pecinta mobil, nama anaknya jadi Karman.

Dikisahkan, seorang suami sedang bingung memberi nama anak pertamanya yang lahir di rumah sakit bersalin. Ia ingin anaknya kelak menjadi host di televisi, pintar bertanya seperti Andi F Noya. Lantas sang ayah baru ini memutar otak, bagaimana agar impiannya itu tercapai. “Bertanya dalam bahasa Ingris itu Ask, anak laki-laki itu man. Maka aku ingin memberi nama anakku Asman,” bisiknya dalam hati.

Namun bila hanya satu kata kurang keren. Harus ada tambahannya yang juga merupakan doa bagi anaknya. Saat ia kebingungan tiba-tiba dia melihat ada tulisan “dilarang merokok”. Seketika itu ia berkata, “Yes! Anakku nanti adalah anak yang pandai bertanya dan tidak merokok dimanapun, maka akan aku beri nama ia Asman No Smoking Area.”

Dalam pembuatan nama, keyakinan yang tidak logis itulah yang menjadikan kekuatan sebenarnnya. Apakah mengikuti sesuatu yang tidak logis itu baik? Jawabannya adalah bisa baik bisa juga tidak baik. Tergantung situasi. Seorang yang nekat memberikan barang dagangannya kepada orang lain yang sedang butuh namun tidak punya uang adalah tindakan yang tidak logis, karena itu akan membuat daganngannya rugi. Masak berdangan kok rugi?? Logikannya dari mana. Namun memang begitulah manusia. manusia itu makhluk yang memiliki hati. Hati itu tidak logis. Hati itu terkadang tidak mengenal memberi dan menerima, keluar masuk, positif negatif, seperti logika manusia yang menyaratkan digit 0 dan 1. Hati itu kadang hanya mengenal satu digit, yang disebut digit cinta, dll yang hanya memberi memberi dan memberi tidak mengharapkan kembali.

Dalam penelitian fisika modern ada yang disebut penelitian "double slit experiment". penelitian "double slit experiment" membuat banyak ilmuwan menjadi bingung mengenai sifat materi itu sendiri. Bagaimana mungkin sebuah Photon dapat menjadi 2 buah photon yang jg adalah sama. Karena ketika menggnuakan Detektor, masing masing detektor mendeteksi hanya ada 1 buah photon saja. Artinya materi juga adalah  gelombang. Artinya "Jika kita ingin mengetahui Kecepatan sebuah partikel maka kita tidak akan pernah dapat memastikan posisinya dan juga sebaliknya jika kita ingin memastikan dimana posisinya maka kita tidak dapat mengukur kecepatannya." Karena dengan adanya penemuan ini, implkasinya adalah semua hal yang dapat kita ukur merupakan sekumpulan nilai2x Probabilistik dan karenanya semua kalkulasi yang kita lakukan merupakan sekumpulan nilai2x Probabilistik juga sehingga tidak akan pernah dapat dikatakan bahwa suatu hal2x benar2x Deterministik 100 %.

Percobaan fisika tersebut membuktikan bahwa ada suatu titik dimana si pengamat akan “menjadi satu” dengan elektron yang diamati. Sehingga konsepnya bukan lagi pengamat, melainkan partisipan karena si pengamat ikut terlibat. Dalam keadaan itu perilaku elektron sesuai dengan niat dari pengamatnya. Silakan googling dengan kata kunci  “double slit experiment” dan “entanglement”. Dalam kecepatan cahaya, waktu berhenti sama sekali.

Jadi soal struktur nama, Rasamu yang muncul ketika dalam menyebut namamu, itulah takdirmu.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ini 7 alasan orang ganti nama, mulai dari malu hingga sakit-sakitan"

Posting Komentar